Thursday, January 26, 2006

Pengemis


Mungkin ada yang pernah atau malah sering melintasi jembatan penyebrangan di depan komdak. Di jembatan itu anda bisa menemukan seorang bapak2 sekitar 40 tahunan sedang menyapu sampah2 yang betebaran. Sekilas memang kita kasihan sekaligus kagum karena dengan kondisi fisik yang cacat (tangan kiri/kanan buntung) dia tetap tekun menyapu jengkal demi jengkal jembatan tsb dari sampah dan bahkan pasir yang betebaran.
Banyak juga yang menunjukan rasa iba simpati atau kagum dengan helai2 rupiah.
Sudah 6 bulan bahkan 2 tahun sebelum saya bertugas di negeri orang saya selalu lewati jembatan itu setiap pagi. Namun dia tetap setia dengan pekerjaannya walau tidak di bayar pemda DKI utk itu.
Tapi apa yang ada di benak saya? Setiap kali melewati jembatan itu bukannya iba atau simpati yang saya rasa, namun kecewa.
Saya melihat betapa hancurnya negara ini. Bahkan sampai ke akar-akarnya seperti yang saya lihat 2 tahun yang lalu di jembatan ini.
Pagi itu saya berangkat agak telat sehingga berjalan melintasi jembatan itu dgn langkah cepat. Saya nyaris bertubrukan dengan sesosok...ya saya sangat kenal. Sosok yang tiap pagi saya lihat tekun menyapu di jembatan ini sambil duduk di lantai seolah-olah berdiripun dia tak sanggup...sosok yang selalu saya kagumi karena dedikasinya dan perhatiannya terhadap kebersihan. Sekarang dia berlari dengan gesit mengalahkan para pedagang kaki 5. Di belakang mereka segerombolan "trantib" berjalan cepat. Razia..!!!
Yang terlintas di benakku adalah...kenapa dia bisa berlari dengan gesit..? bukankah dia terlihat sangat ringkih.
Akhirnya semua kecurigaan terjawab...Mengapa setiap pagi sekitar jam 6 jembatan ini selau kotor dengan sampah yang bertebaran dimana-mana. Ini terlihat seperti disengaja....
memang bangsa ini sudah rusak sampai keakar-akarnya..!!

No comments: